BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kehamilan adalah salah satu tugas perkembangan yang didambakan oleh sebagian besar perempuan yang telah memasuki kehidupan berumah tangga.Menurut Kartono (1995) wanita yang sedang hamil merasa bangga akan kesuburan, dan bergairah menyambut bayinya yang akan lahir. Biasanya calon ibu akan mengembangkan mekanisme kepuasan dan kebanggaan jika kehamilan tersebut merupakan yang pertama kali baginya, karena ia bisa memenuhi tugaskewajiban sebagai wanita dan sebagai penerus generasi. Rasa bahagia juga timbul karena sebagian wanita menganggap kehamilan merupakan kebanggaan sebagai wujud kesempurnaan.Kehamilan memang membawa kebahagiaan tersendiri bagi para wanita.Akan tetapi, tidak dapat dipungkiri bahwa proses untuk menjadi seorang ibuadalah peristiwa yang mendebarkan dan penuh tantangan (Effendi & Tjahjono,1999).
Perempuan yang paling berbahagia dengan kehamilannya pun mengalami kekhawatiran, yang disebabkan oleh keraguan akan kemampuan untuk melewati berbagai perubahan yang terjadi dalam kurun waktu sembilan bulan dan peran baru sebagai ibu yang akan diterimanya (Astuti, Santosa, & Utami, 2000). Selain itu, kehamilan juga merupakan suatu babak baru dalam kehidupan seorang wanita yang umumnya memberikan arti emosional yang sangat besar bagi setiap wanita.Pengalaman ini menimbulkan berbagai perasaan yang bercampur baur antara bahagia dan penuh harapan dengan kecemasan tentang apa yang akan dialaminya selama kehamilan (Effendi & Tjahjono,1999). Menurut Newman dan Newman (2006), beberapa wanita merasa sangat senang dan bersemangat menghadapi kehamilan, sedangkan yang lain mengalami simptom kecemasan dan depresi. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Thompson dan Tantleff-dunn (dalam Rubin, 2005) yang menemukan bahwa kebanyakan wanita yang hamil untuk pertama kalinya hanya tahu sedikit saja mengenai proses yang terjadi pada dirinya. Pengetahuan yang kurang akan apa yang dihadapi mengakibatkan rasa cemas dan takut, sehingga masa kehamilan kurang menyenangkan.
Alexander dan Carlson (dalam Matlin, 2004)menyatakan bahwa perubahan fisik selama kehamilan meliputi payudara yang mengencang, sering buang air kecil, dan merasa lelah. Selain itu, sebagian besar wanita menyatakan adanya kenaikan berat badan dan pembesaran pada bagian perut atau abdomen.
Matlin (2004) menyatakan bahwa perubahan fisik ini juga berhubungan dengan bertambahnya ketidakpuasan terhadap tubuh pada wanita. Hal ini dikarenakan kehamilan membawa perubahan pada ukuran dan bentuk tubuh yang mempengaruhi kondisi fisik yang tampak dari luar pada diri seorang ibu hamil hal ini sejalan dengan hasil penelitian Fairburn dan Welch (dalam Robertson-Frey,2005) yang menemukan bahwa perubahan pada tubuh selama kehamilan tidak selalu dipandang positif dan wanita yang paling khawatir dengan bentuk tubuh mereka sebelum hamil, juga cenderung tidak menyukai perubahan tubuh mereka ketika hamil. Lederman (1984) juga menemukan bahwa tidak ada wanita hamil yang mengekspresikan rasa bangga terhadap ukuran tubuhnya selama trimester kedua dan ketiga.
Fenomena pada tahun 2008 di lapangan menunjukkan bahwa ada beberapa wanita hamil yang mengeluhkan perubahan berat dan bentuk tubuh mereka. Hasil wawancara dan observasi yang dilakukan di salah satu klinik dokter spesialis kandungan di Binjai menunjukkan bahwa perubahan berat dan bentuk tubuh selama kehamilan juga memiliki dampak terhadap bagaimana wanita memandang kehamilannya ( aendie,2009 ).
Sikap terhadap berat dan bentuk tubuh selama kehamilan memiliki dampak yang penting terhadap kenaikan berat badan selama kehamilan dan kesehatan mental ibu setelah melahirkan (Rubin, 2005). Sebagaimana diketahui bahwa kenaikan berat badan yang ideal pada wanita selama kehamilan adalah sekitar 6,5 – 16,5 kilogram. Kenaikan berat badan di bawah ataupun di atas rentang tersebut akan menimbulkan masalah pada kesehatan ibu dan janin (Mochtar, 1998).
Berdasarka hasil penelitian Fox dan Yamaguchi (dalam Robertson-Frey, 2005) yang melakukan penelitian terhadap 76 wanita yang sedang hamil 30 minggu, untuk mengetahui perasaan mereka terhadap penampilan dan bentuk tubuh mereka. Hasilnya 67% dari sampel yang sebelum hamil memiliki berat badan normal, menyatakan adanya perubahan negatif terhadap body image mereka. Penelitian terbaru US Fed News Service (2008) menunjukan kalau wanita yang tetap aktif bekerja dan berpikir lebih positif tentang perubahan bentuk tubuh mereka dapat mencegah depresi baik selama maupun setelah kehamilan.
Berdasarkan studi pendahuluan pada bulan juni 2011 di BPS desa Bedrek selatan kecamatan grogol Kabupaten Kediri terdapat 279 ibu hamil dengan 46 orang trimester II dan 47 orang trimester III pada tahun 2009-2010.sedangkan untuk bulan juni sendiri terdapat 11 orang trimester II dan 23 orang trimester III.
Berdasarkan hisil wawamcara dengan 5 ibu hamil 3 diantaranya mengalamigangguan dengan perubahan bentuk tubuh yang terjadi, dan 2 diantaranya merasa perubahan tersebut hal yang alami selama masa kehamilan.
Kekhawatiran tentang perubahan bentuk tubuh selama kehamilan sebenarnya dapat diatasi dengan tetap aktif bekerja dan berpikir positif.. Selain itu, perilaku berolah raga selama kehamilan juga berpengaruh terhadap pengurangan symptom depresi selama kehamilan.
Bagi banyak wanita, kehamilan merupakan masa khusus dimana diri mereka dipandang melalui bagaimana fungsi tubuh mereka dan bukan bagaimana penampilan tubuh mereka di mata orang lain. Hal ini akan meningkatkan perasaan puas terhadap tubuh selama kehamilan (Bailey & Rubin dalam Rubin, 2005). Hal ini sejalan dengan penelitian Mc Connel dan Daston (dalam Lederman, 1984) yang menemukan adanya hubungan antara bagaimana cara wanita memandang tubuhnya dengan sikapnya terhadap kehamilan. Pada umumnya, wanita yang dapat menerima kehamilan mereka hanya akan sedikit terganggu oleh perubahan kondisi mereka.
Perubahan fisik selama kehamilan akan mempengaruhi perubahan body image wanita (Newman & Newman, 2006). Body image merupakan sikap yang dimiliki seseorang terhadap tubuhnya yang dapat berupa penilaian positif dan negatif (Cash & Pruzinsky dalam Thompson, 1999).
Sehingga, konsep tubuh yang ideal pada wanita adalah tubuh langsing dan wanita sering dinilai dari seberapa menarik mereka di mata orang lain. Kedua hal ini tidak dimiliki oleh wanita hamil karena mereka tidak mungkin memiliki tubuh yang langsing seperti sebelum mereka hamil dan mereka tidak akan dinilai menarik. Hal ini menyebabkan banyak wanita sering mengatakan bahwa mereka merasa gemuk dan jelek selama hamil (Matlin, 2004).
Salah satu faktor yang dapat mendukung penyesuaian diri yang baik dari wanita hamil adalah dukungan sosial, baik dari suami, keluarga, teman, dan lingkungan sekitar (Effendi & Tjahjono, 1999). Dukungan yang diperoleh dari suami akan menimbulkan ketenangan hati dan perasaan senang dalam diri istri (Dagun dalam Afiyanti, 2004). Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Grosman dkk (dalam Effendi & Tjahjono, 1999) bahwa semakin banyak bukti menunjukkan bahwa wanita yang diperhatikan oleh pasangannya selama kehamilan akan menunjukkan lebih sedikit gejolak emosi dan fisik.
B. PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian tentang bagaimana gambaran konsep diri (body image) ibu hamil tentang perubahan bentuk tubuh pada trimester II dan III di BPS desa Bedrek selatan kecamatan grogol Kabupaten Kediri?
C. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan Umum
Mengidentifikasi gambaran konsep diri( body image) ibu hamil tentang perubahan bentuk tubuh pada trimester II dan III di BPS desa Bedrek selatan kecamatan grogol Kabupaten Kediri
D. MANFAAT PENELITIAN
Hasil penelitian diharapkan memberikan manfaat :
1. Bagi ibu
Menambah pengetahuan ibu tentang perubahan bentuk tubuh selama kehamilan terutama pada trimester II dan III.
2. Bagi Petugas kesehatan
Meningkatkan mutu pelayanan pada ibu hamil pada masa kehamilan trimester II dan III
3. Bagi institusi pendidikan
Diharapkan dapat memberikan manfaat khususnya untuk dapat menambah referensi perpustakaan untuk bahan acuan penelitian yang akan datang.
4. Bagi peneliti
Sebagai pengalaman penulisan ilmiah, menambah pengetahuan dan wawasan dalam bidang kesehatan masyarakat.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Diri
1. Pengertian Konsep Diri
Konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian yang diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam berhubungan dengan orang lain (Stuart dan Sudeen, 1991). menurut Beck, Willian dan Rawlin (1986) menyatakan bahwa konsep diri adalah cara individu memandang dirinya secara utuh, baik fisikal, emosional intelektual, sosial dan spiritual.
Menurut John Robert Powers (1977), konsep diri adalah kesadaran dan pemahaman terhadap dirinya sendiri yang meliputi ; siapa aku, apakah kemapuanku, apakah kekuranganku, apakah kelebihanku, apakah perananku, dan apakah keinginanku
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri
Menurut Stuart dan Sudeen (1991) ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan konsep diri. Faktor-faktor tersebut terdiri dari teori perkembangan, Significant Other (orang yang terpenting atau yang terdekat) dan Self Perception (persepsi diri sendiri).
a. Teori Perkembangan
Konsep diri belum ada waktu lahir, kemudian berkembang secara bertahap sejak lahir seperti mulai mengenal dan membedakan dirinya dan orang lain. Dalam melakukan kegiatannya memiliki batasan diri yang terpisah dari lingkungan dan berkembang melalui kegiatan eksplorasi lingkungan melalui bahasa, pengalaman atau pengenalan tubuh, nama panggilan, pengalaman budaya dan hubungan interpersonal, kemampuan pada area tertentu yang dinilai oleh diri sendiri atau masyarakat serta aktualisasi diri dengan merealisasikan potensi yang nyata.
b. Significant Other (orang yang terpenting atau yang terdekat)
Dimana konsep diri dipelajari melalui kontak dan pengalaman dengan orang lain, belajar diri sendiri melalui cermin orang lain yaitu dengan cara pandangan diri merupakan interpretasi diri pandangan orang lain terhadap diri, anak sangat dipengaruhi orang yang dekat, remaja dipengaruhi oleh orang lain yang dekat dengan dirinya, pengaruh orang dekat atau orang penting sepanjang siklus hidup, pengaruh budaya dan sosialisasi.
c. Self Perception (persepsi diri sendiri)
Yaitu persepsi individu terhadap diri sendiri dan penilaiannya, serta persepsi individu terhadap pengalamannya akan situasi tertentu. Konsep diri dapat dibentuk melalui pandangan diri dan pengalaman yang positif. Sehingga konsep merupakan aspek yang kritikal dan dasar dari perilaku individu. Individu dengan konsep diri yang positif dapat berfungsi lebih efektif yang dapat dapat dilihat dari kemampuan interpersonal, kemampuan intelektual dan penguasaan lingkungan. Sedangkan konsep diri yang negatif dapat dilihat dari hubungan individu dan sosial yang terganggu. Menurut Stuart dan Sundeen (1991) penilaian tentang konsep diri dapat dilihat berdasarkan rentang-rentang respon konsep diri yaitu:
Aktualisasi Konsep Diri Harga Diri Kekacauan Depersonalisasi
Diri Positif Rendah Identitas
Skema 2.1.
Stuart dan Sudeen (1991)
3. Pembagian Konsep diri
Konsep diri terbagi menjadi beberapa bagian. Pembagian Konsep diri tersebut di kemukakan oleh Stuart and Sundeen ( 1991 ) dikutip Salbiah , yang terdiri dari
1). Gambaran diri ( Body Image )
Gambaran diri adalah sikap seseorang terhadap tubuhnya secara sadar dan tidak sadar. Sikap ini mencakup persepsi dan perasaan tentang ukuran, bentuk, fungsi penampilan dan potensi tubuh saat ini dan masa lalu yang secara berkesinambungan dimodifikasi dengan pengalaman baru setiap individu .Sejak lahir individu mengeksplorasi bagian tubuhnya, menerima stimulus dari orang lain, kemudian mulai memanipulasi lingkungan dan mulai sadar dirinya terpisah dari lingkungan Gambaran diri ( Body Image ) berhubungan dengan kepribadian
2). Ideal Diri.
Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana ia harus berperilaku berdasarkan standart, aspirasi, tujuan atau penilaian personal tertentu Standart dapat berhubungan dengan tipe orang yang akan diinginkan atau sejumlah aspirasi, cita-cita, nilai- nilai yang ingin di capai Ideal diri akan mewujudkan cita-cita, nilai-nilai yang ingin dicapai. Ideal diri akan mewujudkan cita– cita dan harapan pribadi berdasarkan norma sosial (keluarga budaya) dan kepada siapa ingin dilakukan.
3). Harga diri .
Harga diri adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisa seberapa jauh prilaku memenuhi ideal diri
Harga diri adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisa seberapa jauh prilaku memenuhi ideal diri
4). Peran.
Peran adalah sikap dan perilaku nilai serta tujuan yang diharapkan dari seseorang berdasarkan posisinya di masyarakat. Peran yang ditetapkan adalah peran dimana seseorang tidak punya pilihan, sedangkan peran yang diterima adalah peran yang terpilih atau dipilih oleh individu. Posisi dibutuhkan oleh individu sebagai aktualisasi diri. Harga diri yang tinggi merupakan hasil dari peran yang memenuhi kebutuhan dan cocok dengan ideal diri. Posisi di masyarakat dapat merupakan stresor terhadap peran karena struktur sosial yang menimbulkan kesukaran, tuntutan serta posisi yang tidak mungkin dilaksanakan. Stress peran terdiri dari konflik peran yang tidak jelas dan peran yang tidak sesuai atau peran yang terlalu banyak.
Peran adalah sikap dan perilaku nilai serta tujuan yang diharapkan dari seseorang berdasarkan posisinya di masyarakat. Peran yang ditetapkan adalah peran dimana seseorang tidak punya pilihan, sedangkan peran yang diterima adalah peran yang terpilih atau dipilih oleh individu. Posisi dibutuhkan oleh individu sebagai aktualisasi diri. Harga diri yang tinggi merupakan hasil dari peran yang memenuhi kebutuhan dan cocok dengan ideal diri. Posisi di masyarakat dapat merupakan stresor terhadap peran karena struktur sosial yang menimbulkan kesukaran, tuntutan serta posisi yang tidak mungkin dilaksanakan. Stress peran terdiri dari konflik peran yang tidak jelas dan peran yang tidak sesuai atau peran yang terlalu banyak.
5. Identitas
Identitas adalah kesadaran akan diri sendiri yang bersumber dari observasi dan penilaian yang merupakan sintesa dari semua aspek konsep diri sendiri sebagai satu kesatuan yang utuh.
Identitas adalah kesadaran akan diri sendiri yang bersumber dari observasi dan penilaian yang merupakan sintesa dari semua aspek konsep diri sendiri sebagai satu kesatuan yang utuh.
B. Konsep Body Image
1. Pengertian Body Image
Cash dan Pruzinsky (dalam Thompson, 1999) menyebutkan bahwa body image merupakan sikap yang dimiliki seseorang terhadap tubuhnya yang dapat berupa penilaian positif dan negatif. Definisi lain dari body image adalah sebagai suatu gambaran dan evaluasi mengenai penampilan seseorang (Papalia, Olds, & Feldman, 2004). Dacey dan Kenny (2001) menyatakan bahwa body image berhubungan dengan keyakinan seseorang akan penampilan mereka di hadapan orang lain. Hal ini senada dengan yang dikemukakan oleh Basow (1992) tentang body image yaitu bagaimana seseorang menerima dan merasakan tentang tubuhnya. Body image merupakan komponen yang penting pada konsep diri. Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa body image adalah evaluasi atau sikap yang dimiliki seseorang secara subjektif terhadap tubuhnya.
Evaluasi atau sikap tersebut bisa berupa perasaan suka, puas atau positif yang ditunjukkan dengan penerimaan terhadap tubuhnya atau bisa berupa perasaan tidak suka, tidak puas, atau negatif seseorang terhadap atribut-atribut fisik pada tubuhnya seperti ukuran tubuh, berat badan, dan bentuk tubuh.
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Body Image
Body image tersusun dari faktor internal psikologis, pengaruh budaya, konsep tubuh ideal, dan persepsi individu tentang penampilan dan kemampuan fungsional tubuhnya (Horrocks dalam Indriana & Yanti, 2008). Individu yang memiliki perasan negatif terhadap tubuh akan merasa dirinya tidak menarik. Hal ini menimbulkan perasaan tidak berdaya, artinya individu mempersepsikan adanya kekurangan dalam diri dari segi fisik, tampilan yang tidak menyenangkan, dan secara sosial tidak adekuat sehingga akan membuat individu tersebut menarik diri dari lingkungan (Schneiders dalam Ali & Anshori, 2004).
Kepuasan body image yang dimiliki individu merupakan hasil dari beberapa faktor (Cash & Pruzinsky, 2002):
a. Media massa
Tiggemann (dalam Cash & Pruzinsky, 2002) menyatakan bahwa media massa yang ada dimana-mana memberikan gambaran ideal mengenai figure perempuan dan laki-laki yang dapat mempengaruhi body image seseorang.
b. Keluarga
Menurut teori Social Learning, orang tua merupakan model yang penting dalam proses sosialisasi sehingga mempengaruhi body image anakanaknya melalui modelling, feedback, dan instruksi.
c. Hubungan Interpersonal
Hubungan interpersonal membuat seseorang cenderung membandingkan diri dengan orang lain dan feedback yang diterima ini mempengaruhi konsep diri termasuk mempengaruhi bagaimana perasaan terhadap penampilan fisik. Rosen (dalam Cash & Pruzinsky, 2002) keluarga dalam hubungan interpersonal dapat mempengaruhi bagaimana pandangan dan perasaan menganai tubuh.
3. Aspek-aspek Body Image
Botta (dalam Indriana & Yanti, 2008) mengemukakan bahwa aspek body image terdiri dari:
a. Perception
Perception berhubungan dengan bagaimana seseorang menggambarkan ukuran dan bentuk tubuhnya. Persepsi seseorang pada tubuhnya berhubungan erat dengan persepsi seseorang pada dirinya secara keseluruhan.
b. Attitudinal
Aspek ini berhubungan dengan apa yang seseorang pikirkan dan rasakan tentang tubuhnya dan seberapa besar komitmen seseorang untuk mencapai tubuh yang ideal. Secara umum seseorang yang puas dengan tubuhnya cenderung mempunyai harga diri yang lebih tinggi dari pada orang yang tidak menyukai tubuhnya.
c. Behavioral
Aspek ini merupakan manifestasi perilaku yang berhubungan dengan body image, diantaranya menahan makan dan minum, mengkonsumsi obat pencahar, olah raga yang berlebihan, dan diet (apabila body image-nya negatif).
4. Dimensi-dimensi Body Image
Adapun dimensi-dimensi dari body image menurut Cash (1999) adalah:
a. Evaluasi penampilan, yaitu perasaan menarik, kepuasan atau ketidakpuasan terhadap penampilan.
b. Orientasi penampilan, yaitu derajat perhatian individu terhadap penampilannya.
c. Kepuasan area tubuh, yaitu kepuasan individu terhadap apek-aspek tertentu dari penampilannya. Adapun aspek-aspek tersebut adalah wajah, rambut, tubuh bagian bawah (pantat, paha, pinggul, kaki), tubuh bagian tengah (pinggang, perut), tampilan otot, berat, tinggi, dan penampilan secara keseluruhan.
d. Kecemasan menjadi gemuk, yaitu menggambarkan kecemasan terhadap kegemukan, kewaspadaan akan berat badan, kecenderungan melakukan diet untuk menurunkan berat badan dan membatasi pola makan.
e. Persepsi terhadap ukuran tubuh, yaitu menggambarkan bagaimana
seseorang mempersepsi dan menilai berat badannya, dari yang sangat gemuk sampai dengan sangat kurus.
C. Konsep Kehamilan
1. Pengertian Kehamilan
Kehamilan merupakan sebuah proses yang diawali dengan keluarnya sel telur yang telah matang dari indung telur. Sperma masuk dan bertemu dengan sel telur ketika telur yang matang berada pada saluran telur. Keduanya akan menyatu membentuk sel yang akan mengalami pertumbuhan. Sel telur yang dibuahi membentuk sel pertama yang disebut zigot. Zigot membelah dari satu sel menjadi dua sel lalu membelah menjadi empat sel dan seterusnya berkembang sambil bergerak menuju rahim. Hasil konsepsi tersebut akan menanamkan diri pada dinding rahim (uterus). Sel yang tertanam disebut embrio. Embrio yang bertahan hingga dua bulan untuk selanjutnya akan disebut janin (fetus) sampai pada saat bayi dilahirkan (“Kehamilan”, 2004).
Menurut Schiffmann dan Bello (1986), kehamilan terjadi ketika ovum dan sperma bertemu dalam tuba fallopi, kemudian masuk ke dalam uterus dan mulai membelah menjadi embrio. Sel yang tertanam (embrio) merupakan materi genetik, yaitu setengah berasal dari ayah dan setengah dari ibu.
Kehamilan manusia terjadi selama 40 minggu antara waktu menstruasi terakhir dan kelahiran (38 minggu dari pembuahan). Istilah medis untuk wanita hamil adalah gravida, sedangkan manusia di dalamnya disebut embrio (mingguminggu awal) dan kemudian janin (sampai kelahiran). Seorang wanita yang hamil untuk pertama kalinya disebut primigravida atau gravida 1. Seorang wanita yang belum pernah hamil dikenal sebagai gravida 0 (Notoatmodjo, 2003).
2. Tanda-tanda Kehamilan
Tanda-tanda kehamilan adalah sebagai berikut (“Kehamilan”, 2004):
a. tidak datang haid
b. pusing dan muntah pada pagi hari
c. payudara membesar
d. daerah sekitar puting susu menjadi agak gelap
e. perut membesar
Sedangkan menurut Schiffmann dan Bello (1986), ciri-ciri lain dari kehamilan antara lain mual-mual, perubahan fisiologis payudara, timbulnya rasa tidak enak badan, atau berat badan bertambah.
D. Konsep Ibu Hamil Trimester II dan III
a. Defenisi kehamilan trimester II
Pada kehamilan trimester II ini mengalami perubahan seluruh sistem tubuh baik secara anatomis maupun fisiologis dari keadaan tidak hamil ke keaadan hamil yang disebut fisiologi maternal antara lain :
1. Uterus
Setelah 12 minggu, rahim membesar dan melewati rongga panggul. Pembesaran rahim akan bertumbuh sekitar 1 cm setiap minggu. Pada kehamilan 20 minggu bagian teratas rahim sejajar dengan puser (umbilicus). Setiap individu akan berbeda-beda tapi kebanyakan wanita akan mulai tampak pembesaran perutnya pada kehamilan 16 minggu.
Setelah 12 minggu, rahim membesar dan melewati rongga panggul. Pembesaran rahim akan bertumbuh sekitar 1 cm setiap minggu. Pada kehamilan 20 minggu bagian teratas rahim sejajar dengan puser (umbilicus). Setiap individu akan berbeda-beda tapi kebanyakan wanita akan mulai tampak pembesaran perutnya pada kehamilan 16 minggu.
2. Vagina
Meningkatnya kongesti vaskular organ vagina dan pelvik menyebabkan peningkatan sensitifitas yang sangat berarti. Jadi antara bulan ke-4 dan ke-7 kehamilan memungkinkan tingginya derajat rangsangan seksual
3. Ovarium
Korpus luteum mulai mnghasilkan estrogen dan progesteron dan setelah plasenta terbentuk menjadi sumber utama kedua hormon. Plasenta membentuk steroid, human chorionic gonadotropin ( HCG ), Human Placenta Lactgogen ( HPL ) atau Human Chorionic Somatomammothropin ( HCS ), dan Human Chorionic Thyrotropin ( HCT ).
4. Payudara
a. Adanya rasa kesemutan
b. Adanya nyeri tekan
c. Membesar secara bertahap karena peningkatan pertumbuhan jaringan alveolar dan suplai darah
d. Puting susu lebih menonjol dan mengeras
e. Areola tumbuh lebih gelap
Kelenjar – kelenjar Montgomery menonjol keluar
5. Kulit
a. Stiae gravidarum
Yaitu tanda regangan yang dibentuk akibat serabut – serabut elastik dari lapisan kulit terdalam terpisah dan putus. Hal ini mengakibatkan pruritus atau rasa gatal
b. Pigmentasi
Mengalami pengumpulan pigmen sementara di tiga area yaitu linea nigra ( garis gelap mengikuti midline abdomen ), cholasma ( topeng kehamilan yang terlihat seperti bintik – bintik hitam pada wajah ), dan areola.
c. Perspirasi dan sekresi kelenjar lemak
Kelenjar sebasea atau keringat menjadi lebih aktif. Akibatnya mungkin mengalami gangguan bau badan, banyak mengeluarkan keringat, dan berminyak.
6. Gigi, tulang, persendian
a. Membutuhkan kira-kira sepertiga lebih banyak kalsium dan fosfor
b. Saliva yang asam pada saat hamil membantu aktifitas penghancuran bakteri email yang menyebabkan karies.
c. Sendi pelvik sedikit dapat bergerak
d.Terjadi penambahan berat badan sehingga bahu lebih tertarik kebelakang dan tulang belakang lebih melengkung, sendi tulang belakang lebih lentur.
7. Sirkulasi darah
Terjadinya peningkatan kebutuhan sirkulasi darah sehingga dapat memenuhi kebutuhan perkembangan dan pertumbuhan janin dalam rahim.
8. Sistem respirasi
Ekspansi diafragma dibatasi oleh pembesaran uterus, diafragma naik 4 cm (1,5 inci), kondisi ini menyebabkan ibu bernafas pendek dan sesak terjadi pada 60% wanita hamil.
9. Sistem pencernanan
Karena pengaruh estrogen, pengeluaran asam lambung meningkat yang dapat menyebabkan pengeluaran air liur berlebihan (hipersalivasi), daerah lambung terasa panas, morning sickness, dan mual muntah. Pengaruh progesteron menimbulkan gerak usus makin berkurang dan dapat menyebabkan obstipasi (sembelit).
10. Sistem perkemihan
Pada akhir kehamilan, muncul keluhan sering berkemih karena kepala janin mulai turun ke pintu atas panggul (PAP). Desakan ini menyebabkan kandung kemih cepat terasa penuh. Terjadinya hemodilusi menyebabkan metabolisme air makin lancar sehingga pembentukan urin pun makin bertambah.
b. Definisi kehamilan Trimester III
Kehamilan Trimester III adalah kehamilan periode minggu ke-27 sampai minggu ke-38/40 atau kehamilan mulai dari bulan 7,8, dan 9 ( prawirohardjo,2008).
Perubahan Fisiologis pada Ibu Hamil Trimester III
Beberapa perubahan fisiologis yang terjadi pada kehamilan trimester III yaitu:
1. Uterus
Pada akhir kehamilan (40 minggu) berat uterus menjadi 1000 gram (berat uterus normal 30 gram) dengan panjang 20 cm dan dinding 2,5 cm. Bentuknya kembali seperti bentuk semula, lonjong seperti telur. Pada kehamilan 28 minggu, fundus uteri terletak kira-kira 3 jari di atas pusat atau 1/3 jarak antara pusat ke prossesus xipoideus. Pada kehamilan 32 minggu, fundus uteri terletak antara ½ jarak pusat dan prossesus xipoideus. Pada kehamilan 36 minggu, fundus uteri terletak kira-kira 1 jari di bawah prossesus xipoideus. Bila pertumbuhan janin normal, maka tinggi fundus uteri pada kehamilan 28 minggu adalah 25 cm, pada 32 minggu adalah 27 cm dan pada 36 minggu adalah 30 cm. Pada kehamilan 40 minggu, fundus uteri turun kembali dan terletak kira-kira 3 jari di bawah prossesus xipoideus. Hal ini disebabkan oleh kepala janin yang pada primigravida turun dan masuk ke dalam rongga panggul.
2. Vagina dan vulva
Vagina dan vulva akibat hormon estrogen juga mengalami perubahan. Adanya hipervaskularisasi mengakibatkan vagina dan vulva tampak lebih merah dan kebiru-biruan (tanda Chadwicks). Pada bulan terakhir kehamilan, cairan vagina mulai meningkat dan lebih kental.
3. Payudara
Payudara mengalami pertumbuhan dan perkembangan sebagai persiapan memberikan ASI pada laktasi. Perkembangan payudara tidak dapat dilepaskan dari pengaruh hormon saat kehamilan, yaitu estrogen, progesteron, dan somatomammotropin. Pada kehamilan 12 minggu ke atas, dari puting susu dapat keluar cairan berwarna putih agak jernih disebut kolostrum.
4. Sirkulasi darah
Setelah kehamilan lebih dari 30 minggu, terdapat kecenderungan peningkatan tekanan darah. Sama halnya dengan pembuluh darah yang lain, vena tungkai juga mengalami distensi. Vena tungkai terpengaruhi pada kehamilan lanjut karena terjadi obstruksi aliran balik vena (venous return) akibat tingginya tekanan darah vena yang kembali dari uterus dan akibat tekanan mekanik dari uterus pada vena cava. Keadaan ini menyebabkan varises pada vena tungkai (dan kadang-kadang pada vena vulva) pada wanita yang rentan.
5. Sistem respirasi
Ekspansi diafragma dibatasi oleh pembesaran uterus, diafragma naik 4 cm (1,5 inci), kondisi ini menyebabkan ibu bernafas pendek dan sesak terjadi pada 60% wanita hamil.
6. Sistem pencernanan
Karena pengaruh estrogen, pengeluaran asam lambung meningkat yang dapat menyebabkan pengeluaran air liur berlebihan (hipersalivasi), daerah lambung terasa panas, morning sickness, dan mual muntah. Pengaruh progesteron menimbulkan gerak usus makin berkurang dan dapat menyebabkan obstipasi (sembelit).
7. Sistem perkemihan
Pada akhir kehamilan, muncul keluhan sering berkemih karena kepala janin mulai turun ke pintu atas panggul (PAP). Desakan ini menyebabkan kandung kemih cepat terasa penuh. Terjadinya hemodilusi menyebabkan metabolisme air makin lancar sehingga pembentukan urin pun makin bertambah.
c. Kondisi Psikologis pada Masa Kehamilan
Dalam masyarakat, definisi medis dan legal kehamilan manusia dibagi menjadi tiga periode triwulan, sebagai cara memudahkan tahap berbeda dari perkembangan janin. Triwulan pertama membawa resiko tertinggi keguguran (kematian alami embrio atau janin), sedangkan pada masa triwulan ke-2 perkembangan janin dapat dimonitor dan didiagnosa. Triwulan ke-3 menandakan awal viabilitas, yang berarti janin dapat tetap hidup bila terjadi kelahiran awal alami atau kelahiran dipaksakan (Notoatmodjo, 2003).
Menurut Prawirohardjo (2002), kondisi psikologis wanita yang sedang hamil berbeda setiap tahapnya sebagai berikut:
a. Kehamilan triwulan I
Reaksi psikologis dan emosional pertama terhadap kehamilan dan segala akibatnya pada beberapa wanita berupa kecemasan, kegusaran, ketakutan, dan perasaan panik. Perasaan benci pada suami yang menyebabkan kehamilan dimanifestasikan dengan rasa mual, muntah, dan pusing yang merupakan gejala hamil muda dalam mengahdapi perubahan fisik, hormonal, dan psikis. Pada keadaan yang berat, ada penolakan terhadap kehamilan dan mencoba menggugurkannya. Mereka berpikir bahwa kehamilan merupakan ancaman bahaya, menakutkan, dan membahayakan bagi diri mereka. Ada yang mencoba bunuh diri pada kasus yang lebih parah. Kecemasan pada masa triwulan pertama ini akan berkurang dengan semakin bertambahnya usia kehamilan dan penyesuaian diri yang dilakukan calon ibu.
b. Kehamilan triwulan II
Identifikasi kehamilan sebagai konsep abstrak berubah menjadi identifikasi nyata dalam kehamilan triwulan kedua. Ketika perut menjadi lebih besar, ibu merasakan gerakan janin dan dokter atau bidan dapat mendengar denyut jantung janin. Wanita hamil dalam masa ini sudah dapat menyesuaikan diri dengan kenyataan dan sudah dapat menerima perubahan yang terjadi.
c. Kehamilan triwulan III
Kehidupan psikologis-emosional dikuasai oleh perasaan dan pikiran mengenai persalinan yang akan segera dihadapi dan tanggung jawab sebagai ibu yang mengurus anaknya setelah melahirkan. Pada masa ini, terjadi sindrom persalinan (childbirth syndrome) dimana ada rasa takut, cemas, khawatir, dan stres serta bosan ingin segera mengakhiri kehamilan. Kartono (1995) menambahkan bahwa kecemasan yang dialami wanita selama masa kehamilan akan semakin intensif pada minggu-minggu terakhir menjelang persalinan. Kecemasan tersebut antara lain disebabkan oleh kecemasan yang tidak langsung berhubungan dengan kehamilan dan persalinan, yaitu masalah rumah tangga, pekerjaan suami, bentuk tubuh setelah melahirkan, takut tidak didampingi suami, takut beban hidup semakin berat, dan takut akan tanggung jawab seorang ibu.
C. KERANGKA KONSEPTUAL
![]() | |||||
![]() | |||||
![]() | |||||
: di teliti
: tidak di teliti
Gambar 2.1 kerangka konseptual gambaran konsep diri (body image) Ibu hamil trimester II dan III.
BAB III
METODE PENELITIAN
Metodologi penelitian adalah cara memecahkan masalah menurut metode keilmuan.Pada bab ini disajikan antara lain :
A. Desain Penelitian
Desain penelitian ini adalah merupakan strategi untuk mencapai penelitian yang telah ditetapkan dan berperan sebagai pedoman atau penuntun peneliti pada seluruh proses penelitian (Nursalam,2003:81).
Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan tujuan menggambarkan konsep diri ( body image) pada ibu hamil trimester II dan III.
B. Waktu dan Tempat Penelitian
- Waktu penelitian: Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan juli 2011
- Tempat penelitian: Lokasi penelitian bertempat di BPS desa bedrek selatan kecamatan grogol Kabupaten kediri
|
![]() |
|




Tidak ada komentar:
Posting Komentar